Pages

Teks Drama " NILAI SEBUAH WAKTU"



“Nilai Sebuah Waktu”

● Pemain : - Fitri/ 12 th
                - Tika/ 12 th
                - Riski/ 13 th
                - Kepala Sekolah/48 th
                - Ibu fitri/36 th
                - Wanita tua/60 th

 Didepan kelas 8E , Sekumpulan anak perempuan membicarakan        sesuatu  yang tampak serius.
1.    Fitri : “Eh,.... tadi kelas 8A ulangan Matematika! Mungkin nanti setelah istirahat giliran kelas kita,ya,”

2.   Tika : “Ah,tapi Pak Rifai tidak memberi tahu sebelumnya. Masa tiba-tiba ada ulangan,” (membantah.)


3.   Fitri : “ Kelas 8A juga tidak diberi tahu sebelumnya,kok! Pak Rifai,kan,pernah bilang,jangan kalau mau ulangan saja kita belajar ! Tak ada ulangan pun kita harus tetap belajar. Jadi , kalau ada ulangan mendadak , kita sudah siap,”

Beberapa anak mulai beranjak pergi. Mereka mulai mengambil buku Matematika dan mulai belajar. Ya, waktu yang sedikit itu tentu dapat digunakan untuk mempelajari kembali pelajaran yang lalu.
Seorang siswa bernama Riski tampak kebingungan mengetahui hal itu.Akhirnya,ia memutuskan untuk pulang saja karena tidak siap ikut ulangan. Ia segera mengemas buku dan alat tulisnya.
Sambil berpura-pura sakit,ia menuju ruang Kepala Sekolah.
4.   Riski : “ Assalamualaikum wr.wb,” ( Sambil mengetuk pintu dan berpura-pura bermuka pucat-lemas. )
5.   Kepala Sekolah : “ Walaikumsalam wr.wb , Masuk nak .”

6.   Riski : “ Pak,Sebelumnya Saya meminta maaf mengganggu waktu Bapak.Maksud Saya menemui Bapak, Saya meminta izin pulang,Karna perut saya sakit pak.” ( Sambil memegang perutnya dan bermuka lemas. )


7.   Kepala Sekolah : “ Ow...,Jadi begitu ! Ya sudah saya akan memanggil Ibu Fitri. “ ( Sambil menelepon ruang kantor guru.)

8.   Ibu Fitri : “ Assalamualaikum wr.wb,” ( Sambil mengetuk pintu ruang Kepala Sekolah .)


9.   Kepala Sekolah : “ Walaikumsalam wr.wb, Silahkan masuk Buk.”

10.        Ibu Fitri : “ Baik Pak, Terimakasih .”

11. Kepala Sekolah : “ Begini Buk, Apa benar murid yang bernama    Riski Ahmad sakit ?”


12.        Ibu Fitri : “ Iya Pak betul , Tadi Riski bicara kepada Saya,bahwa dia sedang sakit.Lalu Saya menyuruh Riski untuk meminta izin kepada Bapak dahulu. “ ( Sambil Tersenyum. )

13.        Kepala Sekolah : “ Ya sudah kalau begitu , Bapak mengizinkan Riski untuk pulang dengan alasan perut sakit .”
14.        Riski : “ Terimakasih Pak dan Ibu ? “ ( Sambil berjabat tangan .)

15. Kepala Sekolah&Ibu Fitri : “ Sama-sama nak, Hati-hati dijalan ya ? “

Akhirnya,Riski bisa pulang lebih awal. Tetapi Riski tidak berani pulang ke rumah karena takut dimarahi ibunya. Ia pun memutuskan untuk duduk di taman.

Hampir semua bangku ditaman penuh. Hanya adasebuah bangku di ujung taman yang diduduki seorang wanita tua. Riski pun kemudian melangkah menuju bangku itu. Wanita tua itu rupanya sedang merajut.

15.        Riski : “ Selamat pagi, Nek , ( tegur riski ) , “ Boleh saya duduk disini ? “

16.        Wanita tua : “ Oh, tentu Nak ! “ ( Sambil menggeser tempat duduknya .)


17.        Riski : “ Nenek sedang apa ? “

18.        Wanita tua : “ Sedang merajut baju hangat . “


20. Riski : “ Untuk dijual ? “
21. Wanita tua : “ Tidak . “

22. Riski : “ Untuk cucu Nenek ? “

23. Wanita tua : “ Semua cucuku sudah besar-besar. Nenek membuat baju ini untuk mengisi waktu saja. Nenek tinggal di seberang jalan ini. Ya , tak banyak yang dapat dikerjakan oleh orang tua seperti Nenek ini , “ ( Sambil menarik napas dalam-dalam.)

24. Wanita tua : “ Nenek sudah tak sekuat dulu. Mencuci piring atau memasak pun sudah tak mampu. Nenek senang membaca , tetapi sekarang sudah tak mampu melihat huruf yang kecil-kecil. Padahal , Nenek tak biasa berpangku tangan sepanjang hari. Nenek tak pernah menyia-nyiakan waktu . Dulu , guru Nenek selalu menasihati untuk mengerjakan sesuatu yang berguna bagi diri kita dan orang lain . Sekarang , ada satu kemampuan Nenek yang tidak begitu banyak memakan tenaga dan pikiran. Ya membuat baju-baju hangat kecil ini . “ ( melanjutkan pembicaraan - Nya .)

Riski terkesima mendengar cerita itu . Dalam hatinya , ia mengakui kebenaran ucapan si Nenek . Ibunya pun pernah berkata begitu .

Perasaan Riski terpukul . Ia telah membuang – buang waktu dengan percuma . Duduk di bangku taman ini , tanpa mengerjakan apa pun , hanya untuk menghindari ulangan Matematika .

Ia menyesal . Kalau saja ia dapat membagi waktu dengan baik , tak perlu takut ulangan.

25. Riski : “ Mulai hari ini , aku harus belajar . Aku harus siap menghadapi ulangan , kapan pun dilaksanakan , “  ( tekadnya dalam hati .)





0 komentar:

Posting Komentar

 

My Blog List

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Blogroll

Another Templates

Blogger templates

Blogger news

http://cursor.com/images/12a.gif

About

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Followers

My Blog List